• KAMUS BAHASA SUNDA

    Cara belajar menyenangkan bersama sahabat-sahabatmu melalu media sosial dimanapun Anda berada dan dapat diakses dengan mudah dan cepat. Saling berkomunikasi antar daerah baik sunda maupun bahasa lain adalah ciri ramahnya Indonesia. Mari lestarikan budaya Indonesia.

  • KBS Dina Pesbuk (KBS Di Facebook)

    Tenjo KAMUS BAHASA SUNDA dina pesbuk, sareng tuturkeun kiriman statusna. (Kunjungi KAMUS BAHASA SUNDA di facebook, dan ikuti update statusnya).

  • Basa Sunda

    Basa daerah anu kedah urang jaga sareng urang lestarikeun sarerea pikeun waktos kapayun putra bangsa. (Bahasa daerah yang harus kita jaga dan kita lestarikan bersama untuk masa depan anak bangsa)

Kata "Kaci"

"Kaci" adalah kata yang tidak baku yang biasanya digunakan dalam permainan. Akan tetapi biasanya juga digunakan untuk sehari-hari dengan muka senyum menandakan bercana menutupi rasa malu.
Contoh :
1. Dalam permainan
Permainan tersebut mempunyai aturan tidak boleh bersembunyi terlalu jauh dalam jarak 10 meter. Kemudian peserta melewati jarak tersebut.
"teu kaci" = "tidak boleh".
2. Dalam sehari-hari
Seseorang menumpang makan di rumah teman. Nasinya sudah habis dan dia masih ingin makan.
"Kaci nambah?" = "Boleh nambah?"




Kata "Kaci" sendiri mempunyai beberapa arti :
  1. Benda - Kaci = 1 nama kain putih; 2 mori; 3 ikan laut yang tebal bibirnya
  2. Kalimat/Kata - Kaci = 1 diperbolehkan; 2 diizinkan
Kata "Boleh" sendiri mempunyai arti :
  1. Boleh = 1 meunang; 2 (halus) kénging 
  • memperbolehkan = ngidinan
  • boleh jadi = boa
  • kebolehan = kabisa, kamampuh, kapinteran
 
Dalam hal tersebut kata "kaci" dan "boleh" berbeda. Kenapa?
Karena kata kaci digunakan untuk kata tunggal bukan kalimat (secara tata bahasa, dan tidak baku jika diikuti dengan kata lain).

Mohon maaf apabila ada kesalahan atau kekurangan, dan mohon untuk koreksi/sarannya.
Semoga bermanfaat. Hatur nuhun.

Atoh Kacida Menang Rejeki Nomplok

Atoh Kacida Meunang Rejeki Nomplok

Peribahasa ini menjadi ungkapan kegembiraan seseorang yang mendapat rejeki yang tak diduga-duga. "Congcot" atau tumpeng identik dengan makan enak bagi masyarakat sunda pada umumnya. Congcot biasanya disajikan pada kegiatan atau acara yang bersifat khusus, banyak dihadiri kerabat, keluarga, tetangga dan masyarakat sekitarnya. Ada congcot berarti ada pesta, ada hajatan, ada makan enak, ada sate kambing, ada lauk-pauk nan lezat. Asa ditonjok congcot, secara lugas mengandung arti serasa dipukul oleh tumpeng nggak ada rasa sakit yang ada justru nikmat.

"Asa ditonjok congcot"
Memiliki makna sama dengan "Bagai mendapat durian runtuh", artinya kegembiraan karena mendapat rezeki yang tak disangka-sangka.

© KAMUS BAHASA SUNDA
Facebook : KAMUS BAHASA SUNDA
Twitter : @KamusBhsSunda

Aden Ku Kuda Beureum

Adean ku kuda beureum 
"agul ku banda batur" atawa "ginding ku beunang nginjeum".

Secara letterlijk, "adean ku kuda beureum" bisa diartikan menjadi “beradik kuda merah”. Tidak ada artinya, bahkan sulit dipahami arti kata yang terkandung. Peribahasa ini mengandung kata kiasan yang biasa digunakan dalam tata kalimat peribahasa bahasa sunda yaitu kalimat yang disusun menggunakan personifikasi perilaku mahluk lain. Binatang, tumbuhan, benda mati atau bentuk lainya. Namun secara konotasi bisa mengarah pada tujuan yang dimaksud.
"Adean ku kuda beureum" diartikan sebagai "agul ku banda batur" atawa "ginding ku beunang minjeum". Artinya merujuk pada perilaku orang yang bangga, yang berlebihan bahkan cenderung narcis pada hal-hal yang dimiliki atau yang menempel pada tubuhnya. Misalnya perhiasan, padahal benda tersebut adalah milik orang lain atau dengan kata lain meminjam dari orang lain. Peribahasa ini merupakan sindiran kepada orang lain, biasanya digunakan pada saat-saat pertemuan ibu-ibu atau arisan yang muncul ketika ada salah satu yang hadir tampil dengan sangat berlebihan, namun yang hadir lainnya sudah tahu dengan pasti kalau benda yang dipamerkan tersebut adalah benda pinjaman.

Dalam sastra bahasa Indonesia, "adean ku kuda berueum" memiliki makna sepadan dengan ”berlayar atas angin” yang memiliki makna menyindir pada orang lain yang mengerjakan sesuatunya atas belanja orang lain.



© KAMUS BAHASA SUNDA
Facebook : KAMUS BAHASA SUNDA
Twitter : @KamusBhsSunda

KBS Dina Pesbuk (KBS Di Fecebook)

Suka dengan komunitas ini? Gabung untuk berkomentar atau berbagi opini Anda.